16.11.09

politik yang membuat marah dan skeptis

Oleh filsafat aku diajar kritis. Oleh bisnis aku diajar kreatif. Tapi oleh politik aku (hanya) diajar marah dan skeptis.



Read More......

14.11.09

40 under 40











In its newest edition, Fortune Magazine released 40 people under 40 who drive success and change. They are smartest people on their area, from duo Google until duo Twitter and Kiva. Here is the list.











Read More......

31.10.09

ayo dukung kpk

Penahanan dua (mantan) pimpinan KPK oleh polisi memicu reaksi besar dari masyarakat. Sejumlah lembaga dan tokoh masyarakat mengecam tindakan tersebut. ICW mengecam polisi dan juga presiden, bahkan mantan presiden Gus Dur dengan berkursi roda menyempatkan diri menyambangi KPK untuk menyatakan dukungan moralnya.

Sejak awal, pemeriksaaan Chandra dan Bibit memang sudah bermasalah. Alasan yang digunakan polisi hampir-hampir tidak masuk akal: Bibit dan Chandra dianggap menyalahgunakan wewenang terkait pencekalan tersangka korupsi Anggoro Widjojo. Belakangan, polisi menambahinya dengan menyangka dua pimpinan KPK tersebut terlibat suap, yang dalam perkembangan pemeriksaan dianggap lemah, karena saksi Ari Mauladi yang sebelumnya mengaku menyerahkan uang suap menarik kesaksiannya karena tidak benar.

Kini, berbagai pihak kecewa, bahkan muak dan marah. Di Facebook, ribuan orang menyatakan dukungan terhadap dua pimpinan KPK yang ditahan lewat ribuan status dan grup. Banyak dari kita mengkhawatirkan semua itu hanya skenario untuk melemahkan KPK, untuk melemahkan pemberantasan korupsi di Indonesia. Apalagi terakhir ada kasus besar Bank Century yang melenyapkan uang negara 6.7 trilyun, yang dicurigai sejumlah kalangan melibatkan kampanye presiden, kepentingan keluarga dan kolega-kolega politiknya.

Aku sendiri banyak dihubungi teman-teman dan juga wartawan. Apa reaksi kalangan (mantan) aktivis '98 atas kasus ini. Reaksi tentu jelas: mengecam langkah kepolisian. Namun langkah masih dipikirkan. Banyak yang mendorong dan berharap ada tekanan lewat aksi jalanan. Tapi situasi kami (aku) sudah berbeda. Kami tidak lagi berada di kampus, di tengah-tengah ribuan mahasiswa, sehingga agak sulit membayangkan bisa menggalang ratusan atau bahkan ribuan orang seperti dulu.

Aku sendiri menunggu-nunggu reaksi mahasiswa sekarang. Entah kenapa kok nyaris tidak ada suara. Padahal koran, televisi dan internet sudah heboh dengan kasus ini. Sepertinya, kampus sudah kembali seperti tahun 80-an lagi, di mana hanya sedikit yang peduli terhadap politik. Apalagi, Jakarta kian dipenuhi mall yang membuat mahasiswa mungkin lebih nyaman menghabiskan waktu luangnya di sana.

Sebagai test in the water, aku membuat grup Gerakan Massa Mendukung KPK di Facebook. Aku ingin melihat bagaimana respon masyarakat khususnya kelas menengah Jakarta pengguna Facebook dan Twitter, jika disodorin opsi turun ke jalan. Jika banyak yang siap, aku--dan sejumlah kawan--yang sekarang lebih banyak berkutat dengan urusan mencari nafkah dan oleh karenanya hanya punya sedikit waktu luang, akan oke-oke saja jika diharuskan turun jalan kembali, karena saat ini tekanan seperti itu memang dibutuhkan.

Jika aparat negara sudah berubah menjadi alat kekuasaan semata, maka Anda tidak bisa memperbaikinya dengan hanya bersuara di ruang maya. Butuh tekanan lebih dari itu, yang bisa membuat mereka berpikir ulang untuk melanjutkan perilaku sewenang-wenangnya.


Read More......

28.10.09

mobile web use exploded in 2009







Mobile Web usage has been on the upswing ever since the iPhone leaped onto the stage. But new data form Opera suggests it's not just the iPhone that's delivering the Internet to smartphone users.

Opera, in its Opera Mini format, is simply a downloadable Web browser that works on certain smartphones to replace or augment the users options for accessing the Web--it's free, developed by Opera Software (and, curiously, Google). It works on a variety of phones from handset makers including LG and Nokia--but not the iPhone.

The stats for September from Opera's regular "State of The Mobile Web" report show that traffic flowing through Opera's servers rose by 8.7% over the previous month. So far in October it has netted 26.9% of the global mobile browsing market, beating Apple's iPhone Safari browser into second place with 21.2%. Nokia's not far behind with 20.8%. The number of people using the mobile Opera also went up 11.5% in September versus August figures.

But the number of people using Opera mobile rose by 150% compared to the same period in 2008--a figure which can only be interpreted as an explosion in use. And the growth coming from perhaps some unexpected quarters: The browser is installed mainly on Nokia and Sony Ericsson handsets around the world, and Blackberry units in the U.S., and the list of top 10 countries using the browser includes Ukraine and Vietnam.

These stats, generated by Opera, do kind of make it look like Opera's leading the mobile Web push around the world, but they're skewed in its favor. All of the surveys about smarphone usage show that while many more people may indeed be using Opera instead of Safari, iPhone users use their Internet connection way more than other other smartphone users--a stat reflected in Opera's user figures climbing nearly 12% in the month, while data going through its servers rose just 9%: The conclusion is that Opera users just don't use the browser all that much.

Still, it's undeniably a marker that in 2009 the mobile Web, which has been bubbling under boil for several years now, has finally reached boiling point--thanks to the efforts of Opera, Apple and Nokia. And lets not forget one transformational fact that will change the mobile browsing game forever from this year onwards: Dell's due to launch its smartphone with China's biggest network, and Apple's partnered with the second place network provider. With hundreds of millions of Chinese users soon to join the mobile Web fray (albeit with China's medieval Web censorship in place) this really is the year the Net goes mobile.

Taken from Fastcompany.com

Read More......

27.10.09

ideologi kelas menengah indonesia (?)

Kesadaran sering lahir seiring bencana. Itu pula yang terjadi di Amerika. Paska peristiwa 11 September, banyak orang Amerika yang mengubah jalan hidupnya. Mereka yang selama bertahun-tahun memanjakan diri dalam budaya konsumerisme kini mulai banyak yang peduli pada masalah-masalah sosial. Bukan hanya mereka yang dari kalangan biasa, tetapi tak ketinggalan para selebritis kelas dunia: Angelina Jolie, Oprah Winfrey, Jacqueline Novogratz, hingga Warren Buffet dan Bill & Melinda Gates

Peristiwa pengeboman WTC yang memakan lebih dari 5000 jiwa itu memang membawa dampak yang luar biasa buat kelas menengah Amerika. Peristiwa itu membuat trauma, sekaligus menyentak kesadaran: bahwa ada yang salah denga perilaku (pemerintahan) mereka. Mereka pun lantas ingin menebusnya, dengan melibatkan diri dalam berbagai upaya mengatasi masalah global: penyakit, kemisikan, kesenjangan pengetahuan.

Lantas bagaimana dengan kelas menengah Indonesia? Sulit untuk menjawabnya. Belasan tahun yang lalu, ketika Indonesia masih dicengkeram rezim Orde Baru, aku memendam kemarahan yang luar biasa terhadap kelas menengah Indonesia. Mengapa? Karena mereka tak lebih dari orang-orang yang hanya memikirkan diri mereka sendiri, yang asyik dalam kehidupan nyaman mereka, tanpa mau menyadari sedikit pun bahwa di luar mereka, tak jauh dari rumah mereka, orang-orang tidur di emperan toko, pinggiran jalan tol, kolong jembatan. Mereka juga tak sadar--dan sekaligus tak begitu peduli--bahwa ada jutaan orang yang tak sanggup sekolah (apalagi kuliah), yang sehari-hari hidup dengan tak lebih dari 20 ribu rupiah per hari, sementara anak-anak kelas menengah uang jajannya sudah lebih dari itu. Mereka seolah merasa bahwa Indonesia baik-baik saja, bahkan beberapa menganggapnya sebagai negara yang lumayan maju, karena mereka menggunakan keluarga mereka sebagai ukuran.

Tapi sekarang, kemarahan itu sudah jauh mereda. Pengalaman '98 di mana banyak mahasiswa berlatar kelas menengah yang bersedia melibatkan diri melawan tirani Soeharto mengubah sebagian pandanganku. Paska '98 aku juga melihat cukup banyak warga kelas menengah (Jakarta) yang peduli dengan masyarakat 'sekitar' mereka.

Tapi belakangan, skeptisisme itu muncul lagi. Aku melihat tendensi kelas menengah Indonesia kembali ke karakter seperti zaman Orde Baru: hanya peduli pada apa yang membuat mereka senang, kelas mapan yang cenderung self-centric, konsumeristik, pro status-quo dan enggan direpotin sama masalah-masalah sosial yang bisa bikin pusing.

Memang ada banyak event kelas menengah yang seolah menunjukkan kepedulian mereka: kampanye melawan kemiskinan, pemanasan global, persatuan nasional (Indonesia Unite) dan seterusnya. Tetapi sepertinya itu tak lebih dari slogan. Karena semua dilaksanakan lewat pentas di mall-mall, lapangan, forum internet, dengan berbagai banner, spanduk, kaos, sticker dan tak lupa, sponsor. Bagiku, tentu saja, itu diragukan akan bisa membawa dampak yang nyata. Bahkan aku mencurigai itu tak lebih dari kesenangan baru dan hobi semata, karena dilakukan secara simultan dan tidak berkelanjutan. Padahal semua masalah itu (persatuan nasional, kemiskinan, pemanasan global) hanya bisa diusahakan lewat upaya yang serius dan berkelanjutan.

Justru, sebagaimana jeans yang direbut oleh kapitalis dari kaum bohemian serta jazz yang direbut oleh kelas elit dari tangan kaum budak, domain kampanye sosial (social campaign) yang sebelumnnya digawangi oleh kalangan aktivis mulai direbut oleh kelas menengah borjuis. Jika semua dikerjakan dengan serius dan dengan intensitas yang lebih tinggi, tentu tidak ada masalah. Tapi jika hanya dijadikan ikon dan brand, maka itu tidak ada bedanya dengan Islam yang sekarang di jadikan brand oleh FPI dalam gerakan-gerakan anarkisnya. Bendera dan slogannya islami, tapi perilakunya tidak menunjukkan nilai-nilai islami. Begitu juga kelas menengah: brand dan slogannya peduli, nasionalis, pro green-life, tapi perilakunya tidak menunjukkan bahwa ia peduli, nasionalis dan pro green.

Namun sesungguhnya tidak ada yang aneh dengan semua itu. Kelas menengah kita lahir dari proses politik-ekonomi yang tidak adil, yang membuat sebagian besar orang miskin terpinggirkan dan membuat beberapa makmur gak ketulungan. Kelas menengah kita berbeda dengan kelas menengah Eropa, yang memang lahir dari proses kerja keras yang tanpa henti. Kelas menengah kita, sebagian besar lahir karena orang tua dan keluarga mereka punya kedekatan denga kekuasaan, sehingga memadapatkan banyak privilige politik dan ekonomi yang membuat mereka jauh dari masyarakat kebanyakan.

Kelas menengah kita, tidak seperti kelas menengah Eropa, sangat sedikit yang melek politik dan memiliki kesadaran (ideologi), sehingga sangat sulit diharapkan menjadi penggerak perubahan. Alih-alih penggerak perubahan, mereka bias pro status-quo dan lebih cenderung mendukung kekuasaan. Karena mereka merasa kekuasaan (saat itu dan saat ini) telah membawa kehidupan yang baik dan nyaman buat mereka, tanpa menyadari bahwa kekuasan yang menguntungkan mereka di sisi lain telah menyebabkan penderitaan jutaan keluarga di luar sana.

Aku selalu berharap Indonesia menjadi negara yang demokratis namun sekaligus makmur, karena kesenjangan ekonomi di negeri ini begitu tinggi. Dan itu hanya bisa terwujud jika ada lapisan kelas menengah yang menyadari situasi dan melakukan sesuatu. Beberapa tahun ini banyak teman-temanku yang berasal dari kelas menengah, dan mereka telah menunjukkan bahwa mereka peduli. Tapi sebagaimana pengakuan beberapa, mereka juga tidak yakin apakah (kelas menengah) yang lain akan peduli. "Mereka hanya peduli shopping dan Blackberry," katanya.

Jika demikian halnya, apa mau dikata? Mereka yang tidak diuntungkan oleh sistem politik-ekonomi yang berlaku di negeri ini harus memperjuangkan nasibnya sendiri. Atau berdoa agar ada sejenis "bencana" yang membuat kelas menengah Indonesia terbangun dan tersadar akan tanggungjawab sosial mereka, sebagaimana warga Amerika.

Pada akhirnya, aku teringat akan pusisi WS. Rendra, Sajak Orang Kepanasan, yang dicipta pada masa awal kejayaan Orde Baru, berbarengan dengan lahirnya kelas menengah baru:

Karena kami makan akar
dan terigu menumpuk di gudangmu
Karena kami hidup berhimpitan
dan ruangmu berlebihan
maka kami bukan sekutu

Karena kami kucel
dan kamu gemerlapan
Karena kami sumpek
dan kamu mengunci pintu
maka kami mencurigaimu

Karena kami telantar di jalan
dan kamu memiliki semua keteduhan
Karena kami kebanjiran
dan kamu berpesta di kapal pesiar
maka kami tidak menyukaimu

Karena kami dibungkam
dan kamu nyerocos bicara
Karena kami diancam
dan kamu memaksakan kekuasaan
maka kami bilang TIDAK kepadamu

Karena kami tidak boleh memilih
dan kamu bebas berencana
Karena kami semua bersandal
dan kamu bebas memakai senapan
Karena kami harus sopan
dan kamu punya penjara
maka TIDAK dan TIDAK kepadamu

Karena kami arus kali
dan kamu batu tanpa hati
maka air akan mengikis batu



Read More......

24.10.09

pesta blogger 2009

Siang tadi perhelatan akbar Pesta Blogger 2009 digelar. Bertempat di gedung SMESCO Gatot Subroto, Jakarta, acara tersebut dihadiri oleh lebih dari 1000 peserta. Sebagaimana perhelatan tahun lalu, Pesta Blogger kali ini juga dihadiri oleh bloger dari kota-kota di luar Jakarta. Aku sendiri kadang tidak habis pikir dengan militansi mereka.

Blogging memang menjadi trend dalam kurun waktu 2-3 tahun yang lalu. Berbarengan dengan munculnya fasilitas blogging gratis seperti Blogspot dan Wordpress, ribuan orang di Indonesia menerjunkan diri dalam dunia blogging. Motifnya bermacam-macam: mengekspresikan diri, menuangkan karya, atau sekedar mencoba-coba teknologi. Sejumlah blogger bahkan membentuk komunitas, organisasi, yang membuat eksistensi dan militansi mereka menguat.

Namun seiring menguatnya Facebook dan Twitter, blogging tampaknya mulai ditinggalkan. Aku sendiri termasuk orang yang tidak lagi aktif dalam urusan blogging. Aku lebih sering menulis note di Facebook ketimbang menulis di blog. Dengan feature Newsfeed-nya yang interaktif, Facebook membuat tulisan kita dengan cepat terdeteksi oleh teman-teman (tanpa capek promosi) dan pada gilirannya akan dibaca oleh mereka yang tertarik dengan subyeknya. Kita pun bisa men-tag beberapa teman yang kita anggap relevan dengan tulisan kita, sehingga kita bisa mendapat respon (feedback) atas isinya.

Namun ngeblog sesungguhnya membawa kenikmatan tersendiri yang berbeda dengan Facebook. Di blog, kita seolah punya media. Hal itu bagi beberapa orang cukup untuk membalaskan dendam karena tidak sanggup membuat Detik dan Kompas kita sendiri.

Di blog, kita melihat jajaran tulisan-tulisan kita yang terarsip rapi, mengagumi ide-ide brilian yang sempat tertuang dan memaki tulisan-tulisan bodoh yang terlanjur terpampang. Di blog kita juga bisa menikmati hasil layout kita sendiri, mengagumi selera kita terkait warna, font, banner dan seterusnya.

Kembali ke Pasta Blogger 2009, sepertinya acaranya tidak semeriah yang sebelumnya. Pesertanya pun tidak lebih banyak. Tidak ada performance art dan pameran foto kecil seperti dulu, dan diskusi-diskusinya juga tidak maksimal. Beragam diskusi yang di tempatkan di satu ruangan besar dengan hanya dipisah oleh kain membuat peserta tidak fokus, karena suara speaker masing-masing forum saling mengganggu satu sama lain.

Dalam urusan kehebohan pun tidak seperti tahun lalu. Tahun lalu, ada banyak orang yang tampak excited karena ketemu teman mayanya (mungkin untuk yang pertama kali), lalu foto-foto, tukar kartu nama dan asyik bercengkrama. namun kali ini pemandangan itu nyaris tidak aku jumpai. Mungkin banyak di antaranya yang sudah saling kenal, atau malah tidak tertarik untuk saling mengenal, hehe...

Jika tema tahun lalu Blogging for Society, tema tahun ini jadi One Spirit One Nation. Namun lazimnya sebuah tema, ia tak lebih dari sebuah harapan, sebuah slogan, yang belum tentu mengena bagi kalangan ditujunya. Dan tampaknya itulah terjadi.

Ada banyak blogger yang sepertinya tidak begitu peduli dengan tema, juga dengan diskusi. Ketika Ibu Pritta berbicara di panggung, lebih banyak peserta yang berlalulalang dan saling berbicara sendiri ketimbang mendengar kisah Ibu yang dituntut pencemaran nama baik oleh rumah sakit Omni Internasional itu.

Pada akhirnya, seperti tema Blogging for Society, tema One Spirit One Nation pun hanya indah di banner dan kata-kata. Karena mayoritas blogger di negeri ini tidak begitu peduli dengan itu semua: tema-tema serius yang mereka anggap hanya akan merusak kegembiraan hidup mereka.

Read More......

18.10.09

blogging dan kisah tentang dolar

"This is an incredible and humbling honor. The Internet holds the promise to improve lives and empower people. I feel very lucky to be involved in this time of rapid and amazing change," kata Jeff Bezos, mengomentari perannya dalam revolusi internet akhir abad 20.

Kita semua yang aktif menggunakan internet tentu tahu siapa Jeff Bezos. Pendiri Amazon.com, situs yang mengubah cara orang Amerika dan juga belahan lainnya dalam bertransaksi buku--serta produk-produk lainnya. Bezos adalah salah satu orang yang dengan cerdas mampu melihat peluang dan berani mengambil risiko di tengah demam internet menjelang abad 21. Selain Bezos ada Kevin Rose (Digg.com), Steve Chang cs (Youtube), Mark Zukerberg (Facebook) dan banyak lagi yang lainnya. Mereka adalah orang-orang yang dengan kemampuannya sanggup mengambil peran dan menciptakan sesuatu yang relevan bagi masyarakat zaman sekarang, selain duo Google tentunya--Sergey Brin dan Larry Page.

Lalu bagaimana dengan kita? Peluang apa yang bisa kita manfaatkan di era teknologi ini? Banyak dari kita tidak tahu, atau tepatnya, tidak peduli. Kita hidup di dunia (negara) di mana kita tidak terbiasa berfikir tentang apa yang kiranya bisa kita ciptakan. Meminjam istilah psikoanalis Erich Fromm, kita hidup di negeri di mana mindset utamanya adalah memiliki (to have), bukan menjadi/berkarya (to be). Kita tenggelam dalam kultur konsumsi, yang cenderung asyik sebagai pembeli, penikmat, pengguna, alih-alih sebagai pencipta. Padahal, ada banyak peluang yang bisa dicreate di era teknologi internet sekarang ini. Salah satunya blogging, subyek yang semalam aku "presentasikan" ke seorang teman yang nota bene adalah wartawan.

Ada banyak orang yang tidak tahu potensi di balik blogging. Bahwa selain bisa membuat kita memiliki media, blog juga bisa membuat kita memperoleh penghasilan dalam dolar. Mungkin banyak orang yang sudah mendengarnya, tapi tidak tahu bagaimana caranya. Sementara beberapa orang (lewat beragam buku dan situs) memberitakannya secara bombastis, dengan tagline "Meraih Dolar Secara Gampang", "Menjadi Jutawan Lewat Online" dan seterusnya.

Terkait itu semua, saya ingin bilang, tidak ada yang gampang untuk sesuatu yang bernilai. Namun yang jelas, ngeblog itu gampang, dan saya yakin banyak dari kita (pernah) melakukannya. Membuat blog tidak butuh kemampuan IT yang tinggi. Ia selayaknya membuat akun facebook. "Siapa pun" bisa, karena cukup mendaftar dan mengisi form yang disediakan, dan kemudian menulis/posting. Untuk urusan desain/layout pun tinggal pilih. Kecuali jika kita ingin melay-out sesuai kemauan dan selera desain kita, baru kita butuh kemampuan programming dan seterusnya.

Beberapa tahun lalu, blogging menjadi fenomena yang marak di dunia, termasuk di Indonesia. Tapi saat ini, berbarengan dengan demam facebook dalam 2-3 tahun ini, blogging sepertinya sudah mulai ditinggalkan banyak orang. Kemampuan Facebook yang luar biasa dengan beragam fiturnya telah menyedot jutaan orang berasyik-masyuk di dalamnya. Dalam sehari, tidak sedikit orang yang--kalau dihitung--menghabiskan lebih dari 2 jam sehari untuk fesbukan. Aku membayangkan betapa dampaknya akan berbeda jika kita ngeblog 1-2 jam dalam sehari--konstan.

Ada banyak teman yang selama ini punya tradisi menulis, tapi sejak aktif Facebook ia tidak lagi menulis. Ada banyak teman yang punya kemampuan menulis, tapi ia tidak tahu mau menulis apa dan untuk siapa (kecuali yang berprofesi sebagai jurnalis). Banyak dari kita yang punya kemampuan menulis, tapi tidak tahu apa yang bisa kita perbuat dan hasilkan lewat menulis. Sebagian dari kita bahkan tidak tahu relevansi kemampuan/kompetensi menulis kita dengan dunia/masyarakat sekarang, sehingga kemudian mengambil profesi lain yang tidak ada kaitannya dengan dunia tulis-menulis.

Di era internet sekarang ini, punya kemampuan menulis adalah adalah "anugerah" yang tidak kecil. Karena dengan menulis, kita bisa mengungkapkan gagasan-gagasan kita, mendapat apresiasi dari orang lain, dan mendapatkan penghasilan tambahan. Waktu saya mahasiswa, para penulis harus mengirimkan tulisannya ke media massa agar bisa mendapat honor. Jika tidak, tulisan itu hanya menjadi kliping yang hanya kami sendiri yang membacanya--dan meratapinya karena ditolak koran/majalah.

Tetapi sekarang hal itu tidak perlu terjadi. Saat ini, kita tidak harus mengirimkan tulisan ke media massa untuk bisa dibaca orang dan mendapatkan honor. Bagaimana caranya? Lewat blog. Ya, lewat blog. Dengan menulis blog, kita bisa memiliki media sendiri, mendapatkan pembaca kita sendiri, dan memungkinkan kita meraih penghasilan tambahan tadi. Dengan ketekunan yang sama seperti jurnalis, pelaku MLM, Facebookers, siapa pun akan bisa menghasilkan penghasilan ($) dari internet.

Kuncinya hanya satu: ketekunan meng-update. Jika kita sanggup mengupdate status Facebook kita tiap hari--bahkan tiap jam, semestinya kita juga sanggup menulis blog tiap hari. Karena tidak seperti tulisan media yang umumnya agak panjang dan serius, menulis blog tidak perlu terlalu panjang, bisa pendek dan sesuka-suka kita. Dengan menulis tema-tema yang menarik, entah secara individu atau kelompok, maka kita bisa mendapatkan pembaca, dan pada gilirannya mendapatkan traffic.

Ada banyak orang yang blog-nya telah dikunjungi oleh ribuan bahkan jutaan orang, yang pada gilirannya membuat ia mendapatkan penghasilan. Diantaranya adalah Boingboing.net/Directory of Wonderful Things yang dibuat oleh Mark Frauenfelder dan istrinya, Carla Sinclair, serta TalkingPointsMemo.com, blog milik wartawan politik Josh Marshall. Mereka adalah orang-orang yang tanpa diduga sanggup mendapatkan $500.000 lebih dalam setahun dari blognya, sebagaimana pernah dilaporkan oleh BusinessWeek.

Apakah kita di Indonesia mungkin melakukannya? Mungkin. Ada sejumlah blogger di negeri ini yang juga punya penghasilan di atas gaji pegawai negeri ($300 dalam sebulan) dari aktivitas blogging. Dibanding Mark Frauenfelder dan Josh Marshall memang masih jauh, tetapi jumlah itu cukup signifikan untuk ukuran Indonesia yang UMR-nya dibawah $100--apalagi dihasilkan lewat aktivitas sambilan.

Ada dua hal yang memainkan peranan kunci dalam upaya memperoleh penghasilan lewat online. Pertama TRAFFIC, yang kedua PAGERANK. Traffic adalah jumlah kunjungan yang masuk ke situs/blog kita, dan Pagerank adalah peringkat yang diberikan Google terhadap web/blog kita. Traffic dan Pagerank tinggi akan membuat kita mendapatkan dolar ($) dengan mudah. Namun traffic dan Pagerank tinggi hanya bisa dihasilkan jika kita rajin mengupdate blog kita (serajin mengupdate facebook) dan mempromosikannya, serta rajin mengusahakan agar blog kita di-link oleh blog/web lain.

Kunci mendapatkan traffic adalah menulis sesuatu yang kiranya dibutuhkan orang, bermanfaat, atau lagi trend, dan lalu mempromosikannya--entah lewat email, milis, Twitter, Digg, Youtube, StumbleUpon, Lintasberita.com, Kaskus, grup, page atau status Facebook. Begitu traffic situs/blog kita lumayan tinggi (ratusan per hari), maka peluang kita untuk memperoleh penghasilan online mulai terbuka, yaitu lewat iklan afiliasi seperti Google Adsense dan sejenisnya.

Namun peluang untuk mendapatkan ratusan dollar akan lebih mudah jika blog/situs kita memiliki Pagerank tinggi. Ada banyak program afiliasi--seperti TextLinkAds, Adbrite, Bidvertiser dll--yang menawarkan kerjasama iklan dengan bagi hasil hingga ratusan dolar (per bulan) bagi blog/web yang ber-Pagerank di atas 4 (peringkat Pagerank 1-10). Dan berbeda dengan Google Adsense yang membayar pemilik blog berdasar klik (pay per click), TextLinkAds membayar pemilik blog berdasar kontrak bulanan. Tanpa ada yang meng-klik pun, asal iklan itu nongol di halaman blog/situs kita, maka kita akan dibayar oleh TextLinkAds.

Namun ya itu tadi, TextLinkAds dan sejenisnya hanya mau bekerjasama dengan blog-blog yang ber-Pagerank di atas 3, yang mana hal itu baru bisa diraih jika blog dikunjungi paling tidak oleh 500 orang per hari dan di-link oleh cukup banyak blog lain. Ada rumus (rule) berapa link yang mesti didapat untuk menghasilkan blog ber-Pagerank 3. Namun sederhananya, rumus Pagerank tak ubahnya rumus akademik.

Jika kita seorang intelektual, reputasi kita sering ditentukan oleh karya kita, dalam hal ini anggap saja buku. Jika kita menulis buku (web) yang kemudian buku itu dikutip atau dijadikan referensi oleh buku (web) lain, maka buku kita dianggap berbobot. Makin banyak buku lain yang mengutip buku kita, maka itu pengakuan bahwa buku kita bagus. Tapi nilai kutipan juga berbeda. Jika yang mengutip adalah seorang mahasiswa S-1 dalam sebuah skripsinya, maka nilainya berbeda dengan jika yang mengutip adalah seorang doktor terkemuka.

Web/blog juga begitu. Jika blog kita di-link oleh blog lain, maka itu akan mendongkrak Pagerank kita. Makin banyak yang me-link, peringkatnya akan makin tinggi. Dan Pagerank akan lebih cepat naik jika blog kita di-link oleh web-web atau blog yang sudah memiliki Pagerank tinggi.

Usaha untuk mendapatkan link memang tidak mudah, namun dengan membuat blog secara bersama-sama, berbarengan, kita bisa mendongkrak Pagerank lewat cara saling bertukar link. Buat kalangan blogger profesional yang memang ngeblog untuk mengejar uang, mereka bahkan berani membeli link dari blog/web yang ber-Pagerank tinggi.

Pada akhirnya, semua memang tidak mudah. Untuk bisa menghasilkan, petani harus menyirami tanamannya tiap hari, dan peternak juga harus memberi makan-minum ternaknya tiap hari. Begitu juga dengan blog. Agar blog kita bisa menghasilkan, kita juga mesti mengupdate blog kita sesering mungkin dan langkah-langkah yang sudah dijelaskan di atas.

Namun dengan kerja sambilan kurang lebih satu tahun secara konsisten, semua itu bisa diraih. Buat teman-teman yang pada dasarnya suka menulis--apalagi yang berprofesi sebagai jurnalis--hal itu tentu bukan hal yang sulit. Anggap saja kita menyalurkan hobi menulis alih-alih menabung. Jika kita bisa menghasilkan $50 saja dalam sebulan, maka setahun akan berjumlah $600. Apalagi jika $100 lebih per bulan. Bayangkan saja kita ini para petani yang berusaha menabung dengan memelihara kambing atau kelinci. :-)

By the end and by the way, harga sebuah banner kecil di web/blog ber-Pagerank 4 bisa mencapai $50 sebulan, dan nilai sebuah link yang hanya sebaris bisa $30 per bulan. Dan bahkan menulis review sebuah produk bisa membuat kita mendapat bayaran $10 per post.

Pasar iklan online sangat besar sekali, dan itulah yang membuat Google kaya raya, berdaya dan meraksasa. Saya kira tidak ada salahnya teman-teman ikut mengais sedikit bagian darinya.

Gut luck!

Read More......

13.10.09

paypal unverified





Bulan ini aku dapet $104 dari iklan afiliasi, dan aku bermaksud membuat account Paypal untuk menerima pembayarannya--ketimbang cek. Namun entah kenapa kartu kredit-ku ditolak oleh Paypal. Keterangan yang tertera di Paypal menjelaskan bahwa kartu kreditku (Master Card) ditolak oleh bank penerbit (BCA).

Aku pun lantas menghubungi BCA untuk menanyakan kenapa. Tapi setelah dicek, mereka bilang tidak ada masalah dengan Master Card-ku dan diminta mengulangi registrasi. Selang satu hari kemudian aku pun mengulangi registrasi, namun tetap tidak berhasil dengan keterangan "Your credit card has been denied by the bank issued bla bla bla..."

Aku pun menghubungi BCA lagi, lalu dicek lagi, dibilang tidak ada masalah lagi, dan diminta mengisikan nomor kartu kembali. Aku pun mengulanginya lagi, namun respons tetap sama, sehingga status Paypal-ku tetap "unverified". Ada yang tahu kenapa?

Read More......