Neo-Liberalisme. Istilah itu tiba-tiba saja menyeruak menjelang kampanye pilpres. Entah siapa yang memulai, namun yang jelas pihak SBY-Boediono menjadi pihak yang merasa dipojokkan dengan stigma tersebut. Sehingga dalam sejumlah kesempatan, SBY maupun Boediono berusaha mengklarifikasi bahwa diri mereka bukan neolib.
Bagi para ekonom dan kalangan pergerakan, istilah neo-liberalisme jelas bukan hal yang asing. Tapi buat orang awam, niscaya mereka bertanya-tanya: mahluk apakah itu, sehingga harus diributkan sedemikian rupa?
Neo-liberalisme mengemuka berbarengan dengan menguatnya gerakan anti-globalisasi. Bahkan istilah neo-liberalisme sering dipertukarkan dengan globalisasi. Kalangan pergerakan menganggap bahwa globalisasi (baik atas barang, jasa, tenaga kerja maupun modal) membuat ketimpangan antar negara kian menguat. Globalisasi yang berarti free trade and free market juga dianggap yang menjadi sumber (kelanggengan) kemiskinan negara-negara dunia ketiga.
Secara filosofis, gagasan neo-liberal sering dirujukkan pada Adam Smith, yang terkenal dengan karyanya, The Wealth of Nations. Dalam bukunya tersebut, Adam Smith kurang lebih menyatakan bahwa kemakmuran sebuah bangsa akan lebih mudah dicapai kalau negara tersebut meliberalisasi ekonomi/pasarnya. Liberalisasi dalam hal ini adalah "no restriction on manufacturing, no barriers to commerce, no tarrifs." Pasar mesti dibiarkan terbuka, tanpa intervensi, karena hanya dengan keterbukaan dan bebas intervensilah persaingan yang "fair" bisa terwujud yang pada gilirannya membuat pasar/ekonomi bisa tumbuh dan daya cipta individu bisa berkembang.
Bagaimana dengan posisi negara? Karena liberalisme menganggap pasar harus bebas intervensi, maka negara harus mengambil posisi di luar pasar. Negara, atas nama apa pun, tidak boleh mengintervensi, apalagi ikut-ikutan bisnis. Karena sekali negara melakukan intervensi, maka sistem akan kacau--karena tidak adanya rujukan dan kepastian dalam situasi apa dan bagaimana negara boleh mengintervensi, serta sejauh mana. Negara juga tidak boleh ikut terjun di bisnis, karena akan menimbulkan bias dan conflict of interest. Prinsipnya, negara adalah wasit, dan wasit tidak dibenarkan untuk ikut bermain.
Oleh karenanya, keberadaan BUMN tidak dibenarkan dalam prinsip ekonomi liberal. Dalam hal ini, Amerika dan Inggris adalah contoh sempurna di mana negara tidak memiliki usaha (BUMN). Bahkan perusahaan persenjataan pun dimiliki oleh swasta--meski dengan kontrol yang ketat oleh negara. Pasar yang sehat adalah pasar yang membiarkan persaingan bebas (free), karena hanya persaingan yang bebaslah yang mejamin terjadinya persaingan yang adil (fair). Liberalisme ala Adam Smith percaya akan kemampuan pasar dalam mengelola dan menstabilisasi dirinya sendiri (self-regulating market), jika prinsip-prinsip dasar dipenuhi.
Namun jika ditilik sejarah bangsa-bangsa--termasuk Inggris dan Amerika, tidak ada yang sepenuhnya mempraktekkan prinsip-prinsip Adam Smith di atas. Inggris, dan juga Amerika, sepanjang tahun 1900-an juga banyak mempraktekkan hal-hal yang bertentangan dengan pasar bebas: proteksi dan semacamnya, sebagaimana ditunjukkan Ha-Joon Chang dalam Kicking Away the Ladder. Justru, keberhasilan Inggris dan Amerika dalam menjalankan ekonomi liberalnya bertumpu pada praktek-praktek anti-pasar yang mereka lakukan sebelumnya.
Boleh dikata, sistem ekonomi pasar liberal mendominasi Amerika Serikat di era 1800-an sampai awal 1900-an. Namun berbarengan dengan krisis yang berujung pada Depresi Besar (Great Depression) tahun 1930, Amerika mengubah haluan. Lewat gagasan-gagasan John Maynard Keynes, Amerika merevisi jalan liberalnya. Berpijak pada Keynes, Amerika mulai melakukan intervensi ke pasar--demi alasan stabilisasi. Kebijakan ini dirumuskan dalam apa yang disebut sebagai New Deal Franklin D. Roosevelt.
New Deal inilah yang mendobrak ortodoksi liberal, karena selain berisi berbagai kebijakan untuk mereformasi bisnis dan praktek finansial, New Deal juga berisi program perlindungan terhadap orang miskin/pengangguran. Namun New Deal sama sekali bukan sejenis "sosialisme", karena ia tetap membiarkan kekuasaan korporasi swasta dan free market. Namun boleh dikata pasar bebasnya menjadi terdistorsi (distorted free-market) karena adanya campur tangan negara.
Selama bertahun-tahun Amerika dan sebagian Eropa menempuh jalan ini. Termasuk di era menjelang dan paska Perang Dunia II, yang oleh David Harvey disebut sebagai era "embedded liberalism". Namun pergeseran mulai terjadi ketika Margareth Thatcher berkuasa di Inggris (1978) dan Ronald Reagan menjadi presiden Amerika (1980). Selama berkuasa, Thatcher menghidupkan kembali semangat dan sistem liberal Adam Smith yang disingkirkan sejak Gret Depression. Dengan berpijak pada The Constitution of Liberty-nya filsuf British-Austria, Friedrich August von Hayek, Thatcher menghidupkan kembali kemurnian pasar bebas. "Inilah yang kami percayai," demikian kata Thatcher dalam sebuah forum, sambil menaruh The Constitution of Liberty di mejanya.
Nah, jalan yang diambil Thatcher inilah yang kemudian dianggap sebagai tonggak lahirnya neo-liberalisme. Liberalisme yang sebelumnya mati suri karena terdepak oleh keynesianism kembali dihidupkan. Di era Thatcher, intervensi negara atas pasar berusaha dilenyapkan. Kemurnian pasar berusaha ditegakkan kembali lewat berbagai kebijakan deregulasi, dan pengetatan anggaran ditempuh lewat pemangkasan atas layanan sosial--baik itu layanan kesehatan, pendidikan maupun perumahan.
Di Amerika, Reagan juga mengikuti apa yang dicanangkan Tatcher. Ia menghapus Keynesianism dan menggantinya dengan "new-liberalism". Kebijakan disiplin fiskal dikukuhkan oleh The Fed yang waktu itu dikepalai Paul Volcker. Dalam sejarah ekonomi, apa yang mereka tempuh dikenal sebagai Thatcherism dan Reaganomics.
Selama menerapkan kebijakan neo-liberal, Inggris dan Amerika mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi dari negara-negara lain di Eropa. Pengangguran juga berhasil dipangkas secara signifikan. Namun kebijakan itu juga berbuah jurang yang makin lebar antara kaum kaya (the have) dan miskin (the have not). Di sinilah kita ditujukkan bahwa pertumbuhan tidak selalu seiring dengan pemerataan.
Tapi Inggris dan Amerika tampaknya tidak cukup peduli dengan hal ini. Mereka bangga atas pencapaiannya dan berusaha mengekspor jalan liberalnya ke negara-negara lain. Bangsa mana pun yang ingin makmur (seperti Inggris dan Amerika) mesti mempraktekkan ekonomi liberal. Maka di akhir 1980-an, dirumuskanlah Washington Consensus, seperangkat kebijakan yang berisi prinsip-prinsip dasar ekonomi liberal: deregulasi, disiplin fiskal, perdagangan bebas, privatisasi. Pada gilirannya, lewat Bank Dunia, IMF dan WTO yang dalam kamus kaum pergerakan disebut sebagai The Unholy Trinity, Washington Consensus mendominasi perekonomian dunia era 1980-an hingga sekarang.
Namun sejarah bangkitnya liberalisme (neo-liberalisme) tidak melulu datang dari Barat. Selain perkembangan di Inggris dan Amerika awal 1980, apa yang terjadi di China pada tahun 1979 juga dianggap memicu wabah neo-liberalisme. Ketika Mao Ze Dong meninggal dan digantikan oleh Deng Xioping, terjadi pergeseran "kecil" di China. Terprovokasi oleh kemajuan Jepang, Korsel, Taiwan dan Hongkong, Deng mencoba mengadopsi liberalisme dengan cara membuka zona ekonomi khusus di kawasan pesisir Timur. Ternyata, eksperimen tersebut berhasil--dan dianggap tonggak keberhasilan China hari ini.
Pragmatisme Deng dikritik banyak kalangan komunis. Namun sosok bertubuh pendek-kecil itu menjwab lewat kalimatnya yang terkenal, "Tidak penting kucing hitam atau putih, yang penting ia bisa menangkap tikus." Di sini, secara ideologis Deng tampak bukan seorang Marxis ortodoks. Bahkan ada yang menganggap Deng adalah seorang neolib.
Namun pendapat ini jelas keliru. Deng hanya membuka sekelumit wilayahnya untuk investasi asing, tetapi tetap memelihara kontrol atas ekonomi, korporasi dan pasar uangnya. Bahkan ketika China menswastanisasi sejumlah BUMN-nya pada tahun 1997, Barat tetap tidak menganggap China kapitalis. Karena kontrol dan intervensi negara tetap kuat, yang hal itu bertentangan dengan prinsip pasar bebas. Bahkan sampai China bergabung dalam WTO tahun 2001, ia tetap banyak melindungi kepentingan ekonomi dalam negerinya.
China, justru, memanfaatkan WTO untuk melakukan bargaining atas kepentingan ekonominya terhadap negara-negara maju. Sesuatu yang nyaris tidak pernah ditempuh oleh Indonesia.
bersambung.....
kalo sempet, hehehe...
.
2.6.09
neoliberalisme
11.5.09
14 Inventors We Love
Majalah Inc baru-baru ini mengeluarkan daftar para penemu yang mereka kagumi. Ada 14 penemu, mulai dari Tim Berners-Lee sang penemu world wide web (internet) hingga Hinda Miller dan Lisa Lindahl sang pencipta sport bra. Lihat list lengkapnya di Inc.com.
3.5.09
100 juta kemiskinan absolut?
Di saat para politisi Indonesia sibuk meributkan pemilu dan pilpres 2009, Asian Development Bank (ADB) mengumumkan prakiraannya bahwa 6o juta orang di Asia akan terjebak dalam kemiskian absolut di tahun 2009 ini, dan akan meningkat menjadi 100 juta orang di tahun 2010. Tak terkecuali Indonesia.
Hal itu diakibatkan oleh dampak krisis global yang belum akan teratasi dalam waktu dekat ini. Ekonomi dunia akan melemah, yang akan berdampak pada menurunnya permintaan (demand) yang pada ujungnya melumpuhkan pabrik-pabrik. Tentu saja, lumpuh dan ambruknya pabrik-pabrik akan meningkatkan hjumlah pengangguran, yang membuat banyak dari kita terjebak dalam kemiskinan.
Aku tidak tahu apakah para pemimpin dan calon pemimpin negeri menyadari akan hal ini. Yang jelas tak satupun calon presiden yang mengungkapkan gagasannya perihal bagaimana mengatasi krisis dan membawa Indonesia menuju kemakmuran. Boleh jadi, itu semua gak penting buat mereka. Karena sebagaimana kebanyakan politisi kita, yang terpenting adalah berkuasa. Untuk diri sendiri, untuk keluarga, baru mungkin untuk rakyat semua. Seolah negara ini adalah harta warisan nenek moyang mereka.
26.4.09
social entrepeneurship sebagai gerakan sosial baru
Orang-orang idealis selalu ingin mengubah dunia. Martin Luther, Gandhi, Obama, adalah beberapa diantaranya. Atau para nabi-nabi manusia: Mohamad, Isa, Musa dan seterusnya. Dan dalam usahanya untuk mengubah dunia, banyak cara ditempuhnya. Namun yang paling sering diambil tak lain adalah jalan "politik".
Hingga hari ini, politik memang masih menjadi pilihan utama ketika seseorang ingin memperbaiki dunia, bangsa atau negara. Dan hal itu tentu saja mudah dipahami. Karena dengan politik, seseorang memiliki otoritas atas masyarakat (orang banyak), memiliki kekuasaan untuk mengatur dan memerintah. Dengan politik, seseorang bisa membuat jutaan orang punya akses yang lebih baik terhadap pendidikan, kesehatan--dan juga pekerjaan. Singkat kata: masa depan. Dengan politik, orang bisa membersihkan kotoran-kotaran yang menempel di kulit dan jantung kehidupan sosial kita: para koruptor, mafia, bandit jalanan, atau aparat gadungan.
Namun dengan politik, seseorang juga bisa merampas itu semua: hak atas pendidikan, kesehatan dan kemakmuran warga. Politik, sebaliknya, juga bisa menciptakan mafia, bandit, koruptor atau aparat-aparat pro-kekuasaan. Dan contoh untuk politik yang seperti ini ada sederet jumlahnya--termasuk Indonesia.
Sebagian besar temen-teman (aktivis pergerakan) di Indonesia tampaknya masih memilih jalan politik agar bisa tetap memperjuangkan "Indonesia". Selain karena politik lebih membawa efek massal seperti saya sebutkan di atas, juga karena naluri, pengetahuan dan skill teman-teman memang ada di situ. Bertahun-tahun mereka bergulat dengan dinamika pergerakan, membangun naluri, meningkatkan pengetahuan, mengasah keterampilan (diplomasi, pressure dst), dan sudah menjadi keniscayaan jika pada akhirnya mereka bertahan di sana.
Namun di tengah iklim politik yang tak kunjung lebih baik dan krisis kepercayaan masyarakat terhadap institusi politik sedemikian tinggi, berfikir tentang "jalan lain" untuk menciptakan perubahan tampaknya harus mulai diupayakan. Keterpurukan ekonomi masyakarat (bukan negara, karena pemerintah mengklaim berhasil dengan ukuran pertumbuhannya) tak urung membuat orang-orang menjadi lebih pragmatis. Apa yang membawa hasil/efek jangka pendek cenderung lebih dikejar. Orang tidak mau diajak berpanjang-panjang, beridealisme, berimajinasi tentang kemajuan dan kebesaran, karena semua kata-kata dan slogan itulah yang selama ini telah digunakan untuk menipu mereka.
Pragmatisme yang melanda masyarakat memang sesuatu yang sangat disayangkan, tetapi ia adalah produk yang masuk akal (reasonable effect) dari politik yang kotor dan tidak berpihak ke rakyat. Dan untuk memperbaikinya butuh waktu yang tidak pendek. Salah satunya dengan membangun gerakan yang punya efek langsung ke kehidupan mereka. Dan dalam kondisi Indonesia sekarang, "gerakan sosial-ekonomi" adalah hal yang paling masuk akal.
Meski skala efeknya tidak sebesar politik, tapi hal ini bisa memulihkan kepercayaan dan harapan masyarakat atas negeri mereka: Indonesia. Mohamad Yunus dengan Grameen Bank-nya atau Bono dengan ONE Movement-nya adalah contoh bentuk tindakan sosial yang bisa membawa perubahan signifikan dalam kehidupan seseorang atau masyarakat. Di Indonesia, hal-hal seperti ini pun bukan sesuatu yang tidak ada. Ada cukup banyak tindakan "pemberdayaan" semacam ini, tetapi skalanya belum cukup untuk mendorong perubahan yang signifikan dalam level nasional. Di negeri ini, ada cukup banyak orang serta lembaga yang giat mendirikan sekolah gratis, memberikan beasiswa, membantu pengrajin kecil, pedagang kecil dan seterusnya, tetapi dampaknya masih belum begitu terasa.
Ada banyak sebab kenapa semua itu terjadi. Salah satunya karena dalam gerakan pemberdayaan tersebut, dimensi politik justru dinafikan. Padahal seperti saya sebut di atas, politik adalah kekuatan penting dalam perubahan. Ia bisa menggerakkan, namun juga bisa menghancurkan. Maka dimensi politis tetap penting dalam upaya-upaya pemberdayaan sosial. Anda bisa menggelar sekolah gratis atau memberi beasiswa pada ratusan anak, tetapi jika kebijakan pendidikan pemerintah (politik) sangat buruk, apa yang Anda lakukan akan menuai kegagalan. Anda juga bisa memberdayakan dan mendampingi pedagang atau pengrajin kecil dengan memberi pelatihan serta pinjaman, tetapi jika kebijakan pemerintah sama sekali tidak berpihak kepada orang-orang kecil tersebut, cepat atau lambat juga Anda akan berada di jalan buntu.
Dengan fenomena tersebut, peran aktivis atau mantan aktivis (atau secara umum orang-orang yang mengerti dan punya keberanian secara politik) dibutuhkan dalam gerakan sosial-ekonomi. Tentu saja, itu berarti bahwa "kaum aktivis" mesti juga mengerti soal ekonomi, bisnis, manajemen, pelatihan praktis dan sejenisnya. Dan jika memang punya tekad, bagi saya, bukan hal yang sulit untuk mengerti itu semua. Dan saat ini, sekarang, di saat orang-orang kian pragmatis dan mengharap ada gerakan yang bisa membawa dampak langsung pada kehidupan mereka, adalah saat yang tepat untuk melakukannya: social entrepreneurship.
Tentu, social entrepreneurship tidak mesti seperti Grameen Bank. Karena untuk itu cukup banyak prasyarat yang harus dipenuhi: sistem, jaringan, modal, kemampuan teknis dst. Ia bisa juga hal-hal yang lebih individual seperti Google atau Facebook. Lewat Google, Sergrey Brin dan Larry telah membantu mencerdaskan jutaan orang dan menghemat biaya untuk pintar, karena ia memudahkan kita mendapatkan informasi. Dan hebatnya lagi: gratis. Begitu juga Facebook. Dengan Facebook, kita bisa tetap terhubung dengan teman-teman lama, jauh, jarang ketemu, sehingga keterhubungan sosial kita (social connectivity) tetap terjaga.
Saya sendiri berfikir untuk bisa berbuat sesuatu di situ: memberi pelatihan pembuatan toko online (website) sederhana serta cara marketing online kepada pengrajin atau para pedagang kecil yang membutuhkannya. Karena itulah yang saya mampu. Dan saya kira, ada banyak orang yang sanggup melakukan hal serupa--bahkan dengan skala yang lebih besar. Tinggal masalahnya adalah apakah kita berani mengambil keputusan ke arah sana atau tidak. Tidak melulu politik tetapi terjun ke domain social entrepreneurship.
Ada ribuan aktivis mahasiswa pada tahun '98, dan itu adalah kekuatan laten yang akan luar biasa jika bisa digerakkan kembali: lewat model yang berbeda (sosial-ekonomi). Aku pernah bilang ke beberapa teman, "Kita telah sanggup menjadi footnote dalam sejarah penggulingan Soeharto dan pergerakan mahasiswa '98, dan aku yakin kita juga sanggup mendorong perubahan lewat cara yang berbeda: membangun bisnis yang punya dampak sosial." Karena sebagaimana dikatakan Sheryl Sandberg, Chief Operating Officer Facebook yang juga mantan pekerja Google, "The right decisions and the right investments can change the world."
Don't you believe it?
21.4.09
komplain
Semalem blog ini dapet komplain. Asal-muasalnya dari Khatulistiwa.net, toko online yang aku dirikan. Dalam komplain yang masih tertera di shoutbox tersebut (meski beberapa aku delete karena diposting beberapa kali), Khatulistiwa dianggap tidak responsif terkait order dan refund. Aku sendiri tidak tahu masalah ini karena sudah tidak terlibat harian di Khatulistiwa dan sayangnya juga tidak bisa membantu, karena sang pengomplain tidak meninggal jejak, entah itu nama, link atau kontak.
Komplain, namun juga pernyataan puas, telah menjadi unsur baru dalam hari-hariku sejak mendirikan Khatulistiwa. Ada banyak orang yang senang dengan layanan Khatulistiwa, namun juga ada beberapa yang kecewa bahkan marah-marah. Yang senang biasanya orang yang ordernya dikirim dalam waktu cepat, atau orang yang membutuhkan buku yang sulit dicari namun kami bisa mendapatkannya. Dan yang kecewa tentu saja yang tidak segera terlayani, atau yang pada akhirnya tidak mendapatkan buku yang ia pesan (karena stok habis), atau yang terlambat refund.
Dengan tim yang kecil, kami memang mulai agak kesulitan memenuhi setiap order yang masuk. Bahkan tim kami sering tercecer terkait kecepatan layanan atau refund. Penyelesain yang masuk akal adalah penambahan pasukan, tapi sayangnya itu belum bisa kami penuhi. Sejak awal, Khatulistiwa didirikan dengan modal sangat cekak (kalau tidak bisa dibilang nekat), dan itu masih berlangsung sampai hari ini. Mimpiku pertama-tama adalah membantu mereka yang sibuk (sehingga tidak sempat ke toko buku) serta mereka yang tinggal di daerah/pedalaman untuk tetap bisa mendapatkan buku yang mereka inginkan. Namun karena ini adalah bisnis, ada banyak konsekuensi yang harus ditanggung, yaitu komplain dan semacamnya.
Tentu, akan sangat menyenangkan jika bisa melayani dengan sebaik-baiknya. Namun kapasitas kami mungkin belum cukup. Selain tim yang kecil, kebijakan penerbit juga membuat layanan Khatulistiwa menjadi lebih lambat. Sebagian besar penerbit tidak bersedia memberikan stok buku (konsinyasi) di kami, sehingga sebagian besar buku yang ter-upload di Khatulistiwa tidak tersedia di stok gudang kami--selain gudang kami juga kecil. Baru kalau ada yang memesan, kami akan mengambilnya di penerbit, dengan pola cash/tunai.
Namun berbagai kenyataan dan keterbatasan itu bukan alasan untuk tidak bisa lebih baik. Hari ini, mungkin banyak penerbit yang tidak mau memberikan kebijkan stok dan konsinyasi di kami, karena kami hanyalah toko kecil. Tapi aku yakin itu tidak akan terjadi jika nilai omset kami sudah besar sehingga bisa memberikan pemasukan yang signifikan buat penerbit. Hukum bisnis tampaknya memang selalu begitu: orang-orang hanya antusias bekerjasama dengan mereka yang sudah besar--dan dianggap punya reputasi. Padahal reputasi akan sulit digapai mereka yang kecil jika tidak ada kebijakan yang mendukung dan memihaknya.
Begitu juga terkait pelanggan. Ada sejumlah orang yang kecewa, yang mungkin bukan saja tidak kembali tapi menyerukan black campaign, dan kami hanya bisa meminta maaf pada mereka sambil terus berusaha memecahkan kelemahan kami. Inilah dunia internet, surga kebebasan berbicara (freedom of speech), di mana setiap kekecewaan akan dikabarkan pada semua orang. Pada akhirnya, aku menyadari kebenaran sebuah pepatah: orang yang puas hanya akan memberitahukan kepuasannya pada satu-dua orang, namun orang yang kecewa akan mengabarkan kekecewaannya pada semua orang.
1.1.09
one movement by jet li
On Dec. 25, 2004, I arrived very late at night at the Four Seasons hotel in the Maldives with my wife and two youngest daughters, who were then 1 and 4. It was dark out, but you could still sense how beautiful and peaceful the island was.
The next morning, at 7:50, I felt the earth move. I knew it was an earthquake, because I'd already been in several in China and San Francisco, and I didn't really think much about it. My daughters were very excited to go to the beach, so we set off earlier than planned, at around 10:10. We were just outside the hotel, by the pool and slightly above the beach, when I saw the water come.
It wasn't like in the movies, with a giant wave rolling toward you; the water just rose very fast, covering sunbathers on the sand. People started running toward the hotel, but they were still laughing. I picked up my 4-year-old, Jane, while the nanny took Jada, and we turned toward the hotel. In that instant, the water rose to my knees.
I took two steps and the water was at my hips. Two more, and it was at my chest. Then it was just under my nose. I put Jane on my shoulder and was trying to hold on to the nanny's hand; she was struggling because her head was already underwater. I turned back, and everything—the beach, the swimming pool—was gone. I was just standing in the ocean, in nothing.
I tried to hold on to the nanny, but the water was strong and pushed her and Jada away from me. Luckily, I'm famous and people knew I was there. They'd been looking at me. I shouted at the top of my lungs for help, and four guys swam toward us and saved Jada and the nanny. And I was OK; the water didn't go any higher than my mouth.
In those few seconds after a disaster strikes, you don't have time to think—you just move forward and instinct kicks in. When the wave was gone, there was nothing left. The electricity was down, all communications were down but for the hotel's satellite phone, and we were told we had water for five days and food for three.
That night, everybody camped in the hotel lobby. I held Jada as she slept in my arms, but I couldn't sleep myself, and I had a lot of time to think. I thought that if God had saved me, it must mean something. That day in the Maldives was a real turning point for me. I had spent the first 41 years of my life thinking about Jet Li first, wanting to prove I was special, wanting to prove I was a star. Everything I'd done was self-centered. In that lobby, however, I saw people of different colors, speaking different languages, helping each other. It was very much like in the movies, with people putting women, children and the elderly first, and I thought that if everybody helps, if everybody does a little bit, it will make a big difference.
I also realized that all the money and power in the world would not have saved me from the water. That night I decided that I couldn't wait until I was retired; I had to do something right away. A few days later I announced my plans to start the One Foundation. Still, I didn't quite know where to begin. I wanted to do something in China first, because that's my home country, but I also had to do it right. So it took me a couple of years to do some research and talk to people to understand what could be done there.
I finally set up the One Foundation in 2007. My formula is very simple: one person + one yuan per month = one big family. That is, if everyone contributes a little it will unite us. Sure, governments and companies have responsibilities for ordinary people, but I want to spread the belief that every human being has a responsibility too. It's not just when you've made your millions, when you're a captain of industry or a star. It starts with everybody, with just a little help.
The One Foundation at this stage is primarily about helping with disaster relief. Since we started, we've already been involved with seven disasters, including the Sichuan earthquake. I chose disaster relief because of what happened to me in the Maldives. Usually when a disaster strikes, you hear about it, you see the pictures and then you donate. This means it can take days or weeks before help reaches those who need it desperately. I want to be prepared. I want to have some money already set aside, to buy food and water, so we can act immediately.
And it's not only about material things. People need to know that someone will come and help them. I know this from experience. You need to hang on and hope you're going to be rescued; we want to show people that help is on the way. I've taken a year off from filmmaking to dedicate all my time to the foundation. But I plan to go back to work next year, since being an international actor is a good platform for promoting the foundation. For me it's not just about raising money but also about changing people's beliefs, spreading a love virus. I want to use my name to do good, to give back to the world. Nothing is more important than this now.
Taken from Newsweek, Sep 27, 2008, with original title A Wave of Love.
28.12.08
indonesia, sda, dan politik ekonomi kita
Berita soal penangkapan gembong perdagangan senjata Rusia Viktor Bout tidak menggema. Namun, hal ini diharapkan menggema di hati para ahli strategis Indonesia, dengan tujuan mewujudkan secara benar kalimat indah ”Menjaga dan memelihara kedaulatan dan persatuan serta kesatuan bangsa Indonesia”.
Ini adalah kalimat klise dan membosankan dan terasa muluk-muluk. Ini adalah kalimat sakti yang kita nantikan untuk diwujudkan. Nyatanya, minyak dan gas alam Indonesia tidak dinikmati rakyat Indonesia sepenuhnya. Nyatanya, ikan-ikan Indonesia dicuri para nelayan asing. Nyatanya, negara gemah ripah loh jinawi ini tidak membuat kehidupan rakyat lebih baik dari yang seharusnya.
Bahkan, negara ini seperti masuk perangkap Doktrin Wolfowitz, mengambil nama dari mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Paul D Wolfowitz. Doktrin ini menyatakan bahwa jika ingin menguasai rakyat suatu negara, kuasailah sumber daya alamnya.
Entah suatu kebetulan atau tidak, hal inilah yang ingin dihindari Presiden Bolivia Evo Morales. Hal ini juga yang ingin dicegah Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin dan juga Presiden Venezuela Hugo Chavez. Hal ini juga yang ingin dihindari Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad.
Tapi lihat, apa julukan media Barat kepada Putin dan Chavez serta Ahmadinejad? Mereka dituduh sebagai diktator dan pemimpin ekstrem kiri. Posisi mereka di media Barat terasa tidak terhormat.
Namun, rakyat di negara-negara yang dipimpin para pemimpin tersebut kini lebih baik secara ekonomi. Bandingkan dengan puluhan tahun Amerika Latin di bawah dominasi AS. Amerika Latin pada dekade 1980-an pernah mengalami atau mendapatkan julukan sebagai wilayah yang hilang.
Adakah hal ini menjadi kesadaran Indonesia, atau setidaknya segelintir elite Indonesia, harapan seluruh bangsa? Menjadikan Indonesia yang lebih makmur memang tidak harus menentang penguasa dunia secara verbal dan frontal.
Akan tetapi, sangat perlu diingatkan agar para elite atau, katakanlah, para pemimpin kita tidak lugu. Elite dan para pemimpin harus taktis dan cerdik, secerdik Singapura yang meraup untung dengan keberadaan sumber daya negara tetangganya.
Kita harus cerdik seperti mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad, yang di bawah pemerintahannya warga Melayu memiliki jati diri, setidaknya secara ekonomi.
Atau, jangan-jangan elite kita sungkem dan bangga jika bisa dekat dengan elite AS, Eropa, dan Jepang yang kehadiran investornya nyatanya tak banyak melahirkan kemakmuran bagi kebanyakan rakyat Indonesia.
Pesan ini disampaikan sehubungan dengan kasus Viktor Bout. Ini adalah tokoh yang ada di balik pemasokan senjata ke daerah konflik, yang memecah belah negara kaya sumber alam.
Pernahkah kita menggugat konflik-konflik di Indonesia yang pernah melanda sejumlah provinsi Indonesia? Apakah konflik itu murni karena persoalan internal tanpa dipicu elemen asing? Semoga saja tidak pernah ada elemen asing. Namun, kita jangan terlalu lugu.
Lebih jauh dari itu, pernahkah kita menyadari bahwa kolonialisme era baru tetap berlaku walau tidak lagi dalam bentuk rodi seperti di zaman penjajahan Jepang?
Mengingatkan pesan pendiri
Indonesia adalah negara yang terkenal ramah dan baik. Namun, janganlah kebaikan ini dimanfaatkan asing dengan muka ramah, tetapi hanya mengeruk kekayaan Indonesia.
Tentu untuk mewujudkan semua itu, harapan akan perubahan perangai yang disampaikan tidak saja tertuju kepada para elite atau pemimpin. Ini juga tentunya diharapkan menjadi kesadaran para elite Indonesia, setidaknya elite di kalangan kecil.
Harapan ini sangat mengena menjelang Pemilu 2009, di mana kita berharap segera muncul pemimpin dan elite-elite kecil di pusat dan di daerah yang menjual program bagaimana memakmurkan Indonesia secara lebih berarti.
Para pendiri bangsa kita telah mengingatkan secara tegas dan tertancap dalam soal kedaulatan dan kemakmuran. Salah satunya yang selalu kita ingat adalah isi satu pasal di UUD ’45, yakni kekayaan alam harus dimanfaatkan sebesar-besarnya demi kemakmuran rakyat.
Kita tidak pernah mengakuinya secara eksplisit, tetapi fakta menunjukkan, kekayaan alam yang berlimpah ruah itu tidak dirasakan rakyat kebanyakan. Banyak dari warga yang berjuang dengan biaya sekolah, biaya kehidupan sehari-hari.
Jadi, sekali lagi kita jangan terlalu lugu. Kemiskinan warga RI adalah juga karena kebodohan yang melilit warga bangsa, sebuah kebodohan yang antara lain terjadi karena ketidakmampuan menjangkau pendidikan, sebuah kebodohan yang menjadi warisan penjajahan, yang sejauh ini belum terkikis.
Ini adalah pesan yang tidak perlu menyudutkan siapa pun. Ini adalah pesan untuk sebuah perubahan akan munculnya masa depan yang lebih baik.
Jangan hanya kagum Obama
Alangkah baiknya jika elite-elite Indonesia tidak hanya excited dengan keberadaan dan keberhasilan presiden terpilih AS, Barack Obama. Tentu akan menyenangkan jika pada Pemilu 2009 muncul si agen perubahan ala Indonesia.
Obama adalah tokoh lintas batas ras, usia, jender, dan etnis. Elite Indonesia jangan lagi terjebak pada komoditasi politik usang yang semata-mata mengandalkan taburan uang, yang semoga uang itu pun bukan uang haram hasil korupsi.
Menyedihkan jika Obama hanya dikagumi, bukan dituruti atau ditiru. Obama mengajarkan kita soal sebuah perubahan yang kita yakini bisa terjadi (Change We Believe In).
Seperti kata pakar kepemimpinan asal India, Anthony D Souza. Pesannya, ”Jika Anda yakin pada sesuatu hal baik yang akan Anda lakukan, maka lakukanlah itu dengan sebuah kebulatan tekad, keajaiban akan menyertai kebulatan tekad.”
Ditulis oleh Simon Saragih, Kompas, Minggu, 28 Des 08
11.12.08
power of fb & google: maryamah karpov case
Terbitnya Maryamah Karpov membawa berkah bukan hanya buat penulis dan penerbit, tetapi juga toko buku--tak terkecuali toko online. Sampai hari ini, transaksi Maryamah Karpov di toko online kami, Khatulistiwa, terhitung lebih dari 500-an. Dan sepertinya angka itu akan naik terus.
Semua tak lain karena Facebook dan Google. Di Facebook, aku punya
grup Laskar Pelangi yang beranggotakan lebih dari 4000 orang. Ketika Maryamah Karpov terbit, aku langsung mengirim posting pemberitahuan, dan hasilnya ratusan orang menindaklanjutinya dengan bertransaksi di Khatulistiwa.
Selain itu, Google juga menyumbang besar dalam meningkatnya pengunjung dan transaksi Khatulistiwa bulan ini. Dengan terbitnya Maryamah Karpov, ada ribuan orang yang mencarinya via Google, dan Khatulistiwa selalu muncul di halaman pertama pencarian--urutan 2-4.
Di tengah era Web 2.0, situs-situs social networking seperti Facebook memang banyak digandrungi. Dan di dalamnya terkandung feature-feature yang luar biasa bermanfaat, baik untuk kepetingan bisnis, sosial maupun personal. Dengan Facebook, kita bisa membentuk grup-grup dan saling bertukar informasi dengan orang-orang yang satu minat. Lewat Facebook kita juga bisa chatting layaknya pake messenger. Facebook membuat hubungan antar orang--termasuk antara penjual dan pembeli--menjadi lebih dekat dan akrab, meski sesungguhnya 'tidak mengenal' satu sama lain.
Namun tentu saja, peran Google jauh lebih dominan. Siapa pun yang terjun dalam dunia bisnis online akan berurusan dengan penguasa satu ini: Google. Web anda bisa rame atau sepi ditentukan oleh sejauh mana web tersebut terdeteksi dan diberi posisi oleh mesin pencari. Jika untuk pencarian kata kunci yang anda inginkan situs anda muncul di halaman pertama--seperti kasus Maryamah Karpov dan Khatulistiwa, maka pengunjung akan membanjiri situs anda. Tapi jika untuk kata kunci yang anda harapkan situs anda tidak ada dalam 10 besar (halaman pertama) atau bahkan di 50 besar, maka jangan harap anda dapat pengunjung yang signifikan. Tak peduli sebaik apa pun situs anda.
Saat ini, membuat situs/web memang sudah jauh lebih mudah. Tetapi membuat situs kita ramai dikunjungi banyak orang bukanlah hal yang mudah. Dan di situlah praktek-praktek search engine optimization (SEO) menjadi penting. Selain viral marketing lewat media-media Web 2.0.
